Header Ads

KAMMI, PKS dan Partai Gelora #CatatanKarnoto [Bagian - 48]



Munculnya gerakan mahasiswa Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) ketika itu mencuri perhatian. Bukan karena sosok Fahri Hamzah sebagai ketua umum pertama, karena ketika itu Fahri belum setenar seperti sekarang ini. Namun performance KAMMI di layar publik yang tampil berbeda dengan gerakan lainnya, terutama dari sisi penampilan fisik dan headline isue yang dibawa KAMMI ketika itu.

Penampilan kader perempuan (akhwat) KAMMI dengan hijab panjang dan lebar dan kader pria (ikhwan) berjenggot dan celana kain ditambah headline isue dunia Islam membuat mata publik tertuju dengan gerakan ini. Unik dan memiliki kekhasan dalam dunia pergerakan mahasiswa dizamannya.

Isu keislaman yang kental dan menjadi warna paling kuat dimiliki KAMMI, performance para aktivis KAMMI dipoles dengan kesantunan, kesopanan dan akhlak yang memberikan pesan moral unik menjadikan KAMMI ditatap oleh mata publik dengan sorotan yang berbeda.

Tata krama dan akhlak sesama aktivis pun terjaga begitu rapi, bahkan komunikasi lintas jenis kelamin pun terhijab dengan standar di luar kebiasaan mahasiswa pada umumnya ketika itu. Keunikan yang dimiliki KAMMI pun dimiliki Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dimana tradisi dan performancenya sama dengan yang ditampilkan para aktivis KAMMI. Perempuannya berhijab panjang, prianya berjenggot, mungkin hanya berbeda usia dengan aktivis KAMMI.

Lalu bagaimana dengan Partai Gelora? Saya melihatnya juga unik karena partai yang didirikan mayoritas aktivis dakwah ini cukup bernyali langsung "berenang" ke tengah. Salah satu faktornya menurut saya adalah karena momentum kelahirannya berbeda dengan PKS. Tapi justru disini letak keunikannya.

Keunikan KAMMI, PKS dan Partai Gelora dalam kacamata saya bisa dilihat dalam tiga perspektif, yaitu perspektif sejarah, perspektif politik dan perspektif negara. Dalam perspektif sejarah, publik tahu bahwa ketiganya memiliki ikatan emosional, satu rumpun yaitu Gen-Tarbiyah serta memiliki pemahaman yang tentang universalitas Islam.

Sejarah seperti yang disampaikan Rocy Gerung tidak bisa dihapus karena itu bagian hidup seseorang atau lembaga. Semakin berusaha untuk menghilangkan maka memorinya akan semakin kuat untuk mengingatnya.

KAMMI, PKS dan para pendiri Partai Gelora memiliki sejarah emosional yang sama, pernah satu kata mengangkat isu - isu keIslaman sebagai headline massage dalam gerakannya. Dan kini, ketiganya juga sama - sama menggeser isu utama itu menjadi isu kebangsaan dan isu universalitas mulai dari korupsi, negara, pemerintahan dan birokrasi.

Ketiganya juga bisa dilihat dari perspektif  politik. Pada perspektif ini yang menurut saya berbeda khususnya PKS dan Partai Gelora. Dulu,  saat lahir PKS tidak memiliki orang dengan ketokohan kuat secara nasional, tetapi Partai Gelora lahir dengan nama besar sejumlah tokoh yang dikenal publik secara nasional.

Latarbelakang ini tentu akan berdampak terhadap akselerasi kedua partai. Jika PKS berbasis pada kader - kadernya yang dominan mengangkat dan menumbuhkan PKS sedangkan Partai Gelora akan ada percepatan juga  namun akselerasi ini dominan karena faktor ketokohan elit Partai Gelora.

Disana ada nama Anis Matta (Mantan Wakil Ketua DPR RI), Fahri Hamzah (Mantan Wakil Ketua DPR RI), Sitaresmi Sukanto (Mantan Anggota DPR RI). Ada nama Deddy Mizwar (Arti Senior dan mantan Wakil Gubernur Jawa Barat) dan sejumlah nama terkenal lainnya.

Jadi kalau kelahiran PKS mirip Pertamina, artinya mulai dari nol dalam konteks ketokohan sedangkan Partai Gelora berdiri sudah memiliki modal kuat tokoh yang dimiliki. Partai Gelora mirip dengan partai lainnya seperti Partai Perindo, Partai Nasdem, Partai Gerindra, Partai Demokrat yang lahir sudah memiliki tokoh.

Artinya modal politik Partai Gelora lebih dari cukup untuk bisa leading ketengah. Memang modal awal yang dimiliki PKS dan Gelora ada plus minusnya, diantaranya bagi Partai Gelora dengan dominasi yang terlalu kuat ketokohannya maka suatu ketika andaikan ada sang tokoh menghadapi persoalan moral dan hukum akan berimbas luar biasa, karena tokoh ini menjadi representasi bukan saja secara struktural tetapi juga secara cultural.

Kelebihan Partai Gelora yang "mbrojol" langsung memiliki nama besar maka akan cepat leading terutama akses ke elit dan media karena ketokohan yang dimiliki Partai Gelora akan menjadi sorotan kamera media yang akan membantu publisitas.

Sementara kelebihan PKS karena basisnya tidak menjadikan ketokohan sebagai episentrum partai ini maka jika ada kasus bisa cepat pulih.

Sedangkan kelemahannya adalah leading PKS membutuhkan proses yang lumayan lama untuk bisa berada di puncak. Namun dengan usia yang sudah puluhan tahun PKS dalam konteks ini sudah tidak menjadi persoalan karena sekarang sudah memiliki tokoh nasional.

Ada nama Salim Segaf Al Jufri (Mantan Menteri Sosial), Tifatul Sembiring (Mantan Menkominfo), Hidayat Nurwahid (Mantan Ketua MPR RI) dan Suswono (Mantan Menteri Pertanian) serta lainnya.

Dan terakhir PKS dan Partai Gelora juga bisa dilihat dari perspektif negara, dimana kita bisa melihat dengan menggunakan kacamata bijak bahwa Indonesia memang heterogen jadi membutuhkan partisipasi beragam komponen bangsa termasuk keberagaman warna partai politik tetapi tidak saling mencurigai karena sama - sama memahami pemikiran masing - masing.

PKS dengan brandnya sebagai partai Islam dan Partai Gelora dengan brand sebagai partai umum atau nasionalis maka jika suatu ketika sama - sama berada di puncak kekuasaan maka akan lebih mudah berkomunikasi tentang isu Islam dan negara.

Visualisasi saya terhadap dua partai ini beberapa tahun kedepan seperti ini. Andaikan nanti suatu saat, PKS dan Partai Gelora menjadi partai penguasa maka akan lebih mudah membawa gerbong NKRI karena keduanya sudah saling memahami cara pandang masing - masing tentang Islam dan negara.

PKS tahu pemikiran Partai Gelora tentang Islam, sebaliknya Partai Gelora juga paham pemikiran PKS tentang kebangsaan. Jadi, kelak kedua partai ini akan bertemu dengan lokomotif yang lebih kokoh dan kuat mengingat koalisi mereka dibangun atas dasar kesadaran kolektif bahwa Islam dan negara adalah satu kesatuan.

Ini berbeda dengan kondisi sekarang masih ada kecurigaan tentang isu Islam dan negara padahal para pendiri bangsa justru sudah menyelesaikan isu ini beberapa tahun silam. Akibatnya gerbong negara ini menghadapi tribulensi yang njilmet dan lebih banyak membahas persoalan yang tidak penting bagi sebuah negara.

Jadi, visualisasi saya dalam konteks negara tentang kedua partai ini justru akan menjadi pertanda bahwa akan ada harmonisasi tentang pengelolaan negara dimana tidak ada dikotomi atau merasa paling nasionalis dan paling Islami seperti yang terjadi sekarang ini.

Partai Gelora percaya PKS bisa bicara tentang konsep negara meskipun partai Islam. Sebaliknya,PKS pun percaya  Partai Gelora bisa bicara tentang konsep Islam dalam perspektif kehadiannya disebuah negara. Dari perspektif ini saya visualisasikan akan ada kolaborasi yang indah andaikan dua partai ini menjadi penguasa karena  harmonis, tidak ada kecurigaan isu Islam dan negara. Lalu bagaimana dengan konflik sekarang? Menurut saya dinikmati saja sampai selesai. Wallahu'alam.


#CatatanKarnoto
Founder BantenPerspektif
Eks.Jurnalis Radar Banten dan Majalah Warta Ekonomi Jakarta
Pernah Studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Univ.Mercu Buana Jakarta.
Juara 3 Lomba Menulis Nasional "Wiranto Mendengar" Tahun 2009

No comments

Powered by Blogger.