Header Ads

Personal Branding Bukan Rekayasa Kepribadian #CatatanKarnoto [Bagian-40]



Banyak yang keliru saat bicara personal branding. Dikira personal branding adalah rekayasa kepribadian.

Mendekati Pemilu 2019 para calon legislatif mulai rajin ke salon, bukan salon dalam arti sesungguhnya melainkan salon politik. Tidak ada yang salah dalam aktivitas itu, karena memang selayaknya seseorang melakukan personal branding, tak peduli profesi apapun, apakah dia seorang dokter, jurnalis, pengusaha, guru, dosen apalagi politisi.

Namun sayangnya masih ada yang salah mengartikan tentang personal branding. Dikira personal branding adalah rekayasa kepribadian padahal bukan itu yang sebenarnya. Beberapa kasus yang belakangan saya lihat adalah pada activity branding melalui komunikasi visual foto. 

Orang yang tidak stylish direkayasa menjadi stylish. Padahal personal branding sendiri adalah proses menguatkan brand yang melekat pada seseorang, bukan merekayasa kepribadian.

Hal ini terjadi karena tidak memahami secara teoritis apa itu brand, apa itu branding, apa itu activity branding apa itu advertising, apa itu marketing communication dan apa itu komunikasi visual. Tentang semua itu akan saya bahas pada kesempatan lain. Apa yang saya sebutkan di atas itu saling keterkaitan, terintegrasi makanya dalam teorinya kita kenal istilah Integreated Marketing Communication.

Akibat kesalahan pemahaman itu maka ada persepsi yang kurang pas, seolah-olah membranding seseorang layaknya makan cabe, hari ini muncul langsung berhasil.  Padahal branding butuh proses, konsistensi dalam activity brandingnya. Saya coba ulas sekilas terkait proses personal branding. Pertama yang harus dilakukan adalah mengeksplorer kelebihan seseorang itu karena dari sinilah segalanya dimulai.

saya sekadar mengingatkan, brand itu artinya merek, logo, nama, bentuk, simbol termasuk personality seseorang itulah brand (Philip Kotler). Sedangkan branding adalah proses penguatan brand itu sendiri. Jadi, personal branding adalah suatu aktivitas untuk memperkuat brand seseorang. Nah dalam proses inilah melibatkan banyak hal, mulai dari public relation, advertising, event, direct selling sampai media planning.

Semua itu harus terintegrasi makanya dikenal dengan istilah Integreated Marketing Communication. Nah nanti pada tiap tiap bagian itu didetailkan lagi. Misal bicara advertising, maka kita harua mengerti juga teori advertising, mulai dari tujuan iklan, jenis iklan dan media iklannya.

Konten iklan yang bertujuan awarnness (membangun kesadaran) makan akan berbeda dengan konten iklan yang sudah masuk pada tahap persuasif (ajakan) termasuk iklan yang tahapannya sudah reminder.  Itu baru bicara advertising, belum bicara public relation, event, media planning dan elemen lainnya. Jadi memang branding itu by proses sistematis. Dan ini berlaku untuk semua aktivitas branding, apakah perusahaan, lembaga sosial maupun produk komersial.

#CatatanKarnoto
Founder BantenPerspektif
Eks.Jurnalis Radar Banten dan Majalah Warta Ekonomi Jakarta
Pernah Studi Ilmu Marketing Communication Advertising di Univ.Mercu Buana Jakarta.
Juara 3 Lomba Menulis Nasional "Wiranto Mendengar" Tahun 2009

No comments

Powered by Blogger.