Header Ads

Rumah Minyak Jelantah dan Sampah #ErnaMenulis [Bagian-1]


Rumah Minyak Jelantah dan Sampah, aneh kali ya kedengarannya. Disaat orang mah sibuk bagun rumah cluster saya yang emak - emak justru bikin Rumah Sampah dan Minyak Jelantah. Melalui tulisan inilah saya ingin menjawab keanehan itu, ha ha ha.

Jadi begini, impian untuk mengembangkan Rumah Minyak Jelantah dan Sampah sebenarnya sudah lama ada dalam fikiran.  Namun mimpi ini terpaksa  tertahan dengan berbagai situasi dan kondisi yang ada, terlebih dengan adanya pandemi Covid -19.

Karena faktor itulah akhirnya hanya bisa melangkah pelan - pelan dan tidak bisa lari kencang, berjalan seadanya dan sebisanya meskipun permintaan krang kring berbunyi agar saya mulai lagi. Mohon dimaafkan belum bisa banyak membantu.

Sekian lama Covid -19 melanda jadi memang belum dapat izin misua untuk coba aktifitas di luar rumah. Namun kali ini, dengan new normal yang diterapkan pemerintah sedikit demi sedikit diperbolehkan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, Alhamdulillah.

Dan ini kali pertama tatap muka untuk edukasi, sosialisasi sekaligus membentuk Rumah Minyak Jelantah dan Sampah di Kampung Sayar, Kecamatan Taktakan, Kota Serang. Jujur saya semula rag├╣, namun Pak Lurah meyakinkan kami bahwa Kampung Sayar masuk zona hijau dan belum ada korban Covid -19, semoga memang tidak ada ya.

Selain Pak Lurah yang meyakinkan saya, alasan lain yang membuat saya akhirnya merealisasikan adalah ajakan kerjasama dari dosen pembina KKM Bina Bangsa agar program KKM terkait edukasi minyak jelantah bisa terus berlanjut.


Akhirnya Bismillah kami pun bersedia kerjasama, mencoba bergerak kembali selangkah demi selangkah. Mohon doakan semua lancar dan sehat. Saya pun menceritakan mengapa saya konsen dengan limbah rumah tangga minyak jelantah dan sampah.

Kenapa Rumah Minyak jelantah dan sampah?
Latarbelakangnya sih saya merasa bagaimana gitu, melihat kondisi umum masyarakat yang masih banyak membuang minyak jelantah yang bisa merusak lingkungan, apalagi sebagian besar masyarakat kampung malah masih mengkonsumsi minyak jelantah, padahal risiko penyakit terserang penyakit besar sekali.

Kenapa Sampah?
Sebetulnya sama yang melatarbelakangi mengapai saya juga ngurusin sampah, karena melihat sampah yang masih banyak berserakan di jalanan.Rasa prihatinya saya semakin deras ketika membaca data Pemerintah Kota Serang bahwa  setiap harinya Kota Serang menghasilkan sampah 360 ton/ per hari.



Namun yang bisa diangkut hanya 70-80 ton/harinya, sangat tidak berimbang dan menurut saya ini masalah serius. Menurut saya banyak faktor yang membuat sampah sulit diatasi, mulai kurangnya ketersedian armada, personil kebersihan sampai pada kesadaran masyarakat yang sangat rendah. Padahal sampah juga bisa kita olah dan bernilai ekonomi.

Itulah mengapa saya tertarik dengan sampah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Dan sebagai langkah kongrit saya pun membeli minyak jelantah dan sampah dari  masyarakat baik, mulai dari ibu rumah tangga sampai penjual gorengan.

Mungkin mereka juga heran, kok saya mau beli minyak jelantah mereka. "Buat apa minyak jelantah dan sampai dibeli,? Begitu kira - kira pertanyaan mereka. Selain membeli minyak jelantah dan sampah, saya juga menawarkan bagi mereka yang ingin donasi sampah dan minyak jelantah. Istilahnya kalau biasanya ada donor darah, mungkin ini donor sampah dan minyak jelantah.


Semoga ikhtiar sederhana ini bisa membantu pemerintah dan masyarakat dalam mengurangi limbah minyak jelantah dan sampah. Tidak hanya itu, saya berharap dua limbah ini bisa membawa nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

Diakhir tulisan ini saya ingin mengajak semua masyarakat, siapapun Anda, profesi apapun Anda, hayoo bantu kami dengan cara menjadi donor sampah dan minyak jelantah. Semoga langkah kecil kami bisa bernilai, Aamiin.

#ErnaMenulis
#RumahMinyakJelantahdanSampah
#YayasanPermadani

Salam Hormat,
Erna Yuliawati
*Penggagas Rumah Minyak Jelantah dan Sampah Kota Serang
*Founder Yayasan Permadani Kota Serang
* Nomor WhatsApp yang bisa dihubungi 085757272347.


No comments

Powered by Blogger.