PerspektifTV

Header Ads

Catatan Sang Mantan Demonstran


BANTENPERSPEKTIF.COM
, KAMPUS - 

foto/pribadi
Bicara demonstrasi atau menyuarakan protes, saya juga pernah punya pengalaman tentang hal itu. Dahulu kala saya juga seorang demonstran, pernah beberapa kali diminta memimpin demonstrasi besar yang jumlah masa mahasiswanya diatas 5.000 orang, belum termasuk masa rakyat biasa. 

Demonstrai damai atau kadang sedikit dibumbui benturan, saya senang kalau demo ada bentroknya, karena itu memacu adrenalin darah muda saya. Dari puluhan kali demonstrasi, membuat saya faham betul aroma pedihnya gas air mata.

Tak hanya itu, pusingnya pentungan tongkat aparat dan tidak enaknya terkena peluru karet, tapi semua saya hadapi dengan dedikasi tinggi untuk negeri. Selama masa kuliah, ruang kelas saya adalah jalanan ibu kota negara, sementara materi kuliah saya adalah kebijakan rezim yang tidak berpihak pada rakyat, dosen saya adalah tepuk sorak rakyat yang memberi semangat.

Kawan-kawan saya selain dari kalangan mahasiswa, ada yang juga yang selalu setia menemani perjuangan kami saat itu, mereka adalah para aparat Polisi dan TNI yang berjaga menemani saat demonstrasi. Selalu ada senda gurau dengan mereka, terkadang juga saya dan kawan-kawan bersitegang saling serang. 

Foto/Pribadi


Dari interaksi yang intens itu menyebabkan dua kali saya harus dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Alhamdulillah semua baik-baik saja, bahkan bisa dikatakan kenangan yang sangat indah (di rawat sama anak-anak FKM UI yang cantik). Makanya sampai hari ini ijazah S1 saya masih tersangkut di patung selamat datang.

Saya tidak pernah menaruh dendam pada aparat yang pernah mentung kepala saya dari belakang, mudah - mudahan mereka juga tidak menaruh dendam pada kami. Saat pentungan dan tamengnya kami ambil, saat teman-temannya kami interogasi karena memata - matai dan bikin provokasi. Jadikan itu semua sebagai catatan sejarah dan pengalaman yang bisa buat dongeng untuk anak-anak kita menjelang mereka tidur.

Negeri ini terlalu panjang mendengar cerita kolosal dari para pelaku sejarahnya, harusnya pasca reformasi 98 Indonesia sudah memasuki era tinggal landas, menatap masa depan menjadi negara maju, bukan justeru bergulat dengan persoalan yang itu - itu lagi.

Dulu kita benci korupsi, kolusi dan nepotisme, tapi setelah bangsa ini berhasil menggulingkan rezim orde baru, rezim selanjutnya malah secara masal menanam benih KKN yang baru, terlebih lagi di era rezim 

Penulis: Bang Dulloh
Aktivis 1997,1998 


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.