Header Ads

Pendidikan Agama Islam dan Tujuan Pendidikan Nasional

Doc/Foto:SayutiDarajatSyah

Apakah Anda pernah berfikir seperti apa manusia Indonesia itu? Bagaimana sosoknya?  Pada kesempatan ini penulis akan menjabarkan penjelasan tujuan pendidikan nasional yang bisa diwujudkan dari mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI). 

Dalam pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Selain itu adalah bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Untuk melihat manusia Indonesia yang diinginkan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bisa kita tinjau pada tujuan pendidikan nasional kita yang dikuatkan dalam pendidikan agama Islam. Marilah kita bahas satu persatu 8 karakter PAI pada tujuan pendidikan nasional

Iman dan Takwa
Karekater pertama ini merupakan karakter pondasi yang harus dimiliki manusia Indonesai. 
Seseorang dinyatakan iman bukan hanya percaya terhadap sesuatu, melainkan kepercayaan itu mendorongnya untuk mengucapkan dan melakukan sesuatu sesuai dengan keyakinan. 

Karena itu iman bukan hanya dipercayai atau diucapkan, melainkan menyatu secara utuh dalam diri seseorang yang dibuktikan dalam perbuatannya. 

Proses pembentukan iman diawali dengan proses perkenalan, kemudian meningkat menjadi senang atau benci. 

Mengenal ajaran Tuhan adalah langkah awal dalam mencapai iman kepada Tuhan. Jika seseorang tidak mengenal ajaran Tuhan, maka orang tersebut tidak mungkin beriman kepada Tuhan. 

Di samping proses pengenalan, proses pembiasaan juga perlu diperhatikan, karena tanpa pembiasaan, seseorang bisa saja semula benci berubah menjadi senang. 

Akhir dari proses pengenalan dan pembiasaan ini menjadikan manusia Indonesia yang bertakwa, yakni menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Akhlak Mulia
Karakter yang kedua adalah akhlak mulia. Manusia Indonesia yang telah tumbuh iman dan melahirkan ketakwaan yang secara terus menerus memunculkan karakter yang melekat dalam dirinya berupa akhlak mulia. 

Hal ini tercerminkan dalam pola pikir dan perbuatan yang otomatis dikerjakannnya.

Sehat
Karakter yang ketiga adalah sehat. Pada tahun 1948, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai "kesejahteraan fisik, mental, dan sosial, dan bukan hanya tidak adanya penyakit dan kelemahan". 

Pemahaman konsep kesehatan sebagai kemampuan untuk beradaptasi dan mengatur diri sendiri. Apalagi pada masa pandemi ini, manusia Indonesia seharusnya mampu mengimplementasikan pemahaman tentang sehat itu sendiri. 

Dalam kontek pendidikan agama Islam, sehat salah satu materi kampanye kepada manusia untuk menjadi manusia yang kuat. 

Allah mencintai mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah. Indikator utama dari sehat adalah kuat dalam arti yang lebih luas. 

Manusia Indonesia sehat adalah meningkatnya kualitas hidupnya. Manusia yang sehat seharusnya adalah manusia yang produktif, yakni manusia yang dapat berbuat sesuatu bagi bangsanya. 

Dengan keadaan tubuh yang sehat secara menyeluruh kita bisa berfungsi sebagaimana mestinya seorang manusia. Sehingga kesehatan sudah seharusnya tidak dilihat dari salah satu aspek kesehatan saja. 

Sehat tidah hanya fisik dan bukan hanya fisik dan mental, tetapi keadaan kita yang sejahtera secara sosial, karena segala aspek kesehatan sama-sama berpengaruh terhadap kesejahteraan kita sebagai manusia. 

Untuk menjadi manusia yang sehat, maka sudah seharusnya kita mengusahakan kesehatan untuk bekal tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat bagi yang lainnya.

Berilmu
Karakter yang keempat adalah berilmu. Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, sabda Nabi Muhammad saw. 

Bila menginginkan kehidupan yang lebih baik harus nambah ilmu setiap saat. Pekerjaan mencari ilmu berlangsung seumur hidup. 

Saking pentingnya bagi kehidupan manusia, Rasulullah sampai bersumpah,”Demi Allah, seandanya aku tidak dapat menambah ilmu sehari saja, maka lebih baik aku tidak melihat matahari saat itu.” 

Manusia Indonesia harus berilmu, dengan memiliki ilmu, ia akan dimudahkan dalam segala hal. Ilmu membawa kepada keyakinan, keyakinan membawa kepada amal, dan amal membawa kepada keberuntungan.

Cakap
Karakter yang kelima adalah cakap. Arti cakap dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah sanggup melakukan sesuatu, atau mampu. Dalam bahasa inggris diterjemahkan dengan competent. 

Manusia Indonesia yang cakap adalah manusia yang sanggup melakukan sesuatu berdasarkan ilmu, akhlak, iman dan takwa yang dimilikinya. 

Menjadi manusia yang cakap akan memudahkan dalam segala aspek kehidupan karena kita mampu melakukan banyak hal. Bayangkan ketika diminta bantuan oleh Negara, lalu kita bilang ya dan langsung membantunya. 

Untuk menjadi manusia yang cakap paling tidak kita perkaya pengalaman. Mengekspolrasi kehidupan sekitar kita dengan memanfaatkan segala sumber yang ada. 

Mengedukasi diri merupakan cara yang paling efektif untuk menjadi serba bisa dan mahir dalam melakukan sesuatu.  Mohammad Hatta mengatakan,”kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman, namun tidak jujur sulit diperbaiki.” 

Kreatif
Karakter yang ke enam adalah kreatif. Karakter yang hampir mirip dengan cakap. Kemampuan kreatif adalah kemampuan daya cipta atau kemampuan untuk menciptakan. 

Dalam pendidikan agama Islam diperintahkan untuk berpikir dan kreativitas muncul dari berpikir dulu. 

Kalau kita berfikir pasti nanti ada sesuatu yang baru yang dapat kita buat. Dan disitulah kreatifias muncul. “…kemudian Kami jadikan dia (manusia) makhluk yang unik”. (al-Mukmin:23)

Mandiri
Karakter yang ketujuh adalah mandiri. Seorang Mukmin adalah pribadi yang selalu mandiri, bekerja keras, tidak segera menyerah pada keadaan, dan tidak mudah tergantung kepada orang lain. 

Baginya, sempitnya lapangan kerja bukan penghalang, melainkan pemicu semangat untuk membuka lahan-lahan baru yang lebih menjanjikan.

Untuk membangun kemandirian ini, Rasulullah SAW selalu menegaskan kepada sahabat-sahabatnya bahwa tangan yang di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (mengemis atau meminta). (HR Bukhari-Muslim).

Secara moral ia harus mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya. Karena itu agar kuat, dia harus menjalin hubungan kepada sang pencipta alam semesta dengan ikatan yang disebut Hablun Minallah .

Hablun Minallah adalah iman dengan segala perangkatnya dan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, bersandar, menyembah dan memohon pertolongan hanya kepada Allah SWT. 

Ia harus membuat suasana kehidupan yang aman, nyaman, damai dan dapat memberi manfaat terhadap sesama. 

Nilai seseorang memang sangat tergantung dari banyak sedikitnya manfaat kepada orang lain. Sifat mandiri inilah yang menjadikan ia berusaha untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Warga Negara Yang Demokratis dan Bertanggungjawab
Karakter yang kedelapan ini sebagai warga negara yang demokratis, hendaknya memiliki rasa hormat terhadap sesama warga negara terutama dalam konteks adanya pluralitas masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai etnis, suku, ras, keyakinan, agama dan ideology politik. 

Selain itu, seorang warganegara juga dituntut untuk turut bertanggugjawab menjaga keharmonisan hubungan antar etnis serta keterautran dan ketertiban negara yang berdiri diatas pluralitas tersebut. 

Konsep toleransi dalam Islam dengan menghormati dan menghargai agama lain (tapi tetap dalam takaran Islam) adalah tak lain bertujuan agar tercipta kurukunan antar umat muslim dan non-muslim. 

Sehingga kita dapat meminimalisir berbagai konflik dan ketegangan yang ada. Dalam pendidikan agam Islam menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab merupakan sikap seorang Muslim yang memegang teguh janji setia sebagaimana tercermin dari sikap keimanan dan ketakwaannya kepada Allah swt. 

Dari kedelapan karakter yang sudah dijelaskan, pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI) menjadi mata pelajaran terdepan untuk mensukseskan tujuan dari pendidikan nasional kita. 

Semua itu terangkum dari tujuan utama pendidikan agama Islam untuk membentuk manusia sempurna (Insan Kaamil) yang dapat berperan sebagai hamba Allah yang benar dan juga sebagai khalifah atau pemimpin yang mampu memakmurkan dunia bagi kehidupan manusia dan rahmat alam sekitarnya.

Penulis : 
Sayuti Darajat, S.Pd.I, M.Pd
Guru PAI SMAN 1 Kota Serang

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.