PerspektifTV

Header Ads

Serunya Pendakian di Jalur Purba Gunung Lawu

 

Pendakian menuju salah satu gunung tertinggi di Jawa oleh kelompok Pemuda Penggiat Alam Bebas Nusantara (Komppas Nusantara) yang berbasis di Kabupaten Bogor, sebelumnya tidak terfikirkan akan mendapat rintangan yang cukup berat.

Mengingat jalan pintas menuju pos lima yang mereka lalui, sesuai anjuran mantan kepala desa setempat. Maksud hati ingin menikmati perjalanan pendakian,  jalur yang dilalui justru penuh halang dan rintangan. Disepanjang perjalanan dipenuhi semak belukar yang baru saja dibabat, bahkan bekas sisa-sisa kebakaran Hutan Lawu terlihat begitu jelas.

Tim Komppas yang memang tidak menyangka akan melewati jalur seperti itu merasa sangat kesulitan, selain kehabisan perbekalan air minum karena disepanjang jalur ini sama sekali tidak ada sumber air, tidak sedikit dari mereka yang mengalami luka-luka, seperti tertusuk duri besar, tergores ilalang, bahkan Nopoli salah seorang personil tertusuk sisa kebakaran di pelipis dekat matanya.

Tepat pukul 23.00 WIB, team Komppas yang diketuai Dulloh Abdulloh, mulai melakukan pendakian ke Gunung Lawu bersama anggotanya yang berjumlah enam orang. Pendakian yang dimulai pada 24 September 2020 itu, bukan merupakan pendakian pertama kalinya. Komppas Nusantara yang terbentuk di Bojonggede di tahun 2017 itu, kerap melakukan kegiatan alam bebas seperti, pantai, sungai, hutan bahkan pendakian ke gunung.

Pendakian ke gunung Lawu, merupakan pendakian ke-7 untuk gunung - gunung tinggi. Setelah sebelumnya mereka juga pernah mendaki, gunung Gede Pangrango, Gunung Salak, Papandaian, Rinjani, Sindoro, dan Gunung Prau. "Pendakian ke gunung Lawu kali ini, sudah kami rencanakan jauh hari sebelumnya," kata Bang Dulloh pada Bogor Update beberapa waktu lalu.

Mereka memulai perjalanan ke titik utama basecamp pendakian melalui pintu gerbang Candi Cetho. Ada jalur khusus untuk pendakian dari gerbang Candi Cetho, namun ditengah perjalanan sebelum pos satu mereka bertemu dengan seorang mantan kepala desa yang mengaku sangat faham seluk beluk gunung Lawu, Dia menyarankan kepada kami untuk mendaki melewati jalur cepat yang baru dibuka.

Mendaki melalui jalur babar bisa menghemat waktu hingga dua jam, dan itu langsung sampai pos 5. Dengan kesepakatan bersama team, bang Dulloh memutuskan ambil jalur babar, yang mereka sebut perjalanan melalui jalur purba.

"Ini perjalanan pertama kami mendaki gunung Lawu dan luar biasa kami langsung dihadapkan pada perjalanan purba. Kami namakan perjalanan purba karena pendakian kami benar-benar melalui jalur yang tidak semestinya, tapi  melewati jalan alternatif yang sudah puluhan tahun tidak digunakan. Alhamdulillahnya kami ditemani penduduk asli daerah setempat, sehingga kami percaya" ujar Bang Dulloh.

Perjalanan team Komppas Nusantara tidak seperti yang diharapkan, karena jalur ini sudah lama tidak ada yang melewatinya, penuh semak belukar. Anggota team mulai ada yang luka-luka tangannya, bahkan ada juga yang pelipisnya terluka terkena semak duri. Dari target samapai di pos 5 pukul 17.00 WIB, bahkan sampai pukul 21.00 WIB mereka belum tahu sudah berada pada posisi ketinggian berapa dan dimana.

Siang berganti malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 wib. Namun, team Komppas belum juga sampai pos 5, seperti yang di harapkan tiba lebih cepat. Personil team Komppas pun mulai mengalami kelelahan. 

"Setelah melalui tebingan jurang yang curam, bang Dulloh memutuskan tuk beristirahat,. "Saya melihat kawan-kawan saya mulai lelah dan halusinasi, karenanya saya putuskan berhenti untuk berustirahat malam.

Tidur dikemiringan tanah, beratap langit, karena tidak memungkinkan untuk mendirikan tenda, hanya dibatasi oleh pohon-pohon pinus. "Saat itu nyali saya benar-benar ciut," tutur Abdulloh.

Dalam terpaan angin yang kencang, team Komppas pun terlelap tidur di sela-sela pohon pinus setelah melakukankan perjalanan di kemiringan tebing gunung yang terjal, yang setiap saat bisa menghempaskan mereka pada kecelakaan.

Pagi menjelang, mereka pun mulai melanjutkan perjalanan. Persediaan air mulai habis dan tidak ada air yang bisa mereka jumpai dalam perjalanan. 

Untuk mengantisipasi menjaga stamina tubuh, mereka membawa bekal madu yang ditaruh dalam plastik dan bisa mereka hisap-hisap selama dalam perjalanan.

Berbekal pengamalan dan latihan yang mereka lakukan sebelum perjalanan, membuat fisik mereka terjaga. Menjelang pukul 08.30 wib, akhirnya mereka sampai di Padang Savana (pos 5). Di sisa tenaga, mereka mulai melanjutkan pendakian ke puncak Gunung Lawu dengan melewati Padang Savana yang membentang sepanjang perjalanan. 

Melintas area bernama Gupak Menjangan (tempat yang biasa didatangi kawanan menjangan di musim hujan) serasa berjalan diemperan taman surga, juga melewati lokasi yang sangat mistis di Gunung Lawu, yaitu Pasar Dieng (pasar setan) yang konon sering terjadi hal-hal diluar nalar. Alhamdulillah team Komppas Nusantara hanya percaya pada kekuasaan Allah Subhanahuwataala.

Beberapa ratus meter sebelum sampai puncak, mereka sampai di Hargo Dalem (warung tertinggi di dunia). Milik Mbok Yem, penjaga warung ini sangat viral, "Beliau menyediakan makanan dan minuman untuk para pendaki," kata Abdulloh.

Perjalanan pun dilanjutkan mendaki ke puncak Lawu. Kurang lebih 1 jam perjalanan, sampailah mereka di Puncak Lawu di ketinggian 3, 265 mdpl. Mereka mulai mentafakuri kebesaran Allah SWT yang merupakan misi dari pendakian mereka ke Gunung Lawu.

Setelah puas menikmati indahnya alam dari ketinggian puncak Gunung Lawu, mereka mulai meninggalkan Puncak Lawu dan kembali turun. "Kali ini kami turun melalui jalur resmi Candi Cetho," lanjut Abdulloh. Jam 23.30 Team Komppas pun tiba di basecamp awal pendakian dengan selamat

"Alhamdulillah...kami sampai ke basecamp awal pendakian dan seluruh personil team dalam keadaan sehat Wal Afiat," ujar Bang Dulloh menutup pembicaraan.

Penulis : Team Komppas Nusantara

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.