Header Ads

Tenaga Sisa Jelang Ronda Terakhir Pilkada #CatatanKarnoto [Bagian - 71]

 


Pertandingan dalam sebuah arena pilkada sebenarnya melelahkan juga, apalagi dimusim pandemi Covid - 19 seperti pilkada 2020 yang sekarang berlangsung, jelas sangat melelahkan. Lelah finansial, lelah tenaga, lelah fikiran dan lelah bicara. Dalam situasi normal pun pilkada sebenarnya sudah melelahkan terutama mereka yang terlibat langsung, mulai dari para calon, tim sukses dan relawan.

Namun lelahnya pilkada tahun ini jauh lebih lelah. Jangankan mereka yang terlibat di dalam arena pertandingan pilkada, orang yang di luar arena pun sedang kelelahan. Kehidupan normal pun sudah cukup melelahkan karena efek samping dari Covid - 19 yang sekarang terjadi.

Setelah sekian bulan lamanya keluar masuk ke perkampungan, meyakinkan pemilih, berbicara, berdoa dan mendatangi dari sudut rumah ke sudut rumah sekarang mulai memasuki detik - detik ronda terakhir pilkada.

Tidak mudah menjaga stamina ditengah pertandingan yang super berisik di luar arena yang disediakan. Ada suara demonstrasi, suara penangkapan aktivis, suara kebijakan istana yang pro kontra dan paling menyuiitkan adalah suara berisik dari Covid - 19 yang tak kunjung jelas, apakah sudah dikatakan aman atau belum.

Suara berisik memang terjadi pada setiap momentum pilkada, hanya saja suara berisik pilkada tahun 2020 lebih berisik dan tidak menentu. Jika pilkada sebelumnya suara berisik itu terisolir dalam satu area dimana pilkada itu diselenggarakan, tapi sekarang suara berisik itu datang darimanapun termasuk di luar arena pertandingan.

Kembali pada masalah menjelang ronda terakhir pilkada. Pada 9 Desember 2020 adalah hari dimana masa - masa paling dinantikan sekaligus mendebarkan. Yang pasti sekarang ini para peserta pilkada tenaganya tinggal sisa.

Ibarat pertandingan tinju, pada posisi lawan sebenarnya sudah lemas tetapi disisi lain penantang pun tidak memukul karena tenaganya tidak kuat. Akhirnya mereka yang incumbent sudah sempoyongan, tetapi penantang pun tidak kuat memukulnya. 

Saya selalu mengatakan kepada mereka yang terlibat langsung pilkada bahwa yang terpenting itu jangan sampai getun. Getun itu istilah Jawa yang artinya kita tahu apa yang seharusnya dilakukan untuk bisa menang tetapi hal itu tidak dilakukan.

Rasa penyelesan orang yang getun itu jauh lebih menyesal ketimbang penyesalan biasa. Dan biasanya mereka yang kalah itu salah satu faktornya adalah getun tadi. Jadi, tahu apa yang seharusnya dilakukan tetapi tidak dilakukan.

Dan getun ini selalu terjadi pada detik - detik terakhir menjelang pertandingan usai. Dan ketika seseorang mengalami getun maka akan lama hilangnya karena membekas. Ibarat paku yang ditancapkan di tembok lalu dicabut maka sisanya akan masih tampak.

Detik - detik menjelang ronda terakhir memang ada rasa yang bercampur, emosi mereka akan diaduk - aduk antara perasaan optimisme, was - was, khawatir, semangat menjadi satu sehingga membutuhkan stabilizer emosi yang berkualitas. 

Jika tidak maka emosi itu akan membuncahkan rasa yang seharusnya tidak ada. Pada beberapa kasus pilkada sebenarnya ada calon yang seperti mendapatkan warming up atau pemanasan soal rasa menejelang ronda terakhir.

Pada kasus Pilkada Kota Cilegon misalnya, Helldy Agustian cukup sukses menghadapi tribulensi sebelum akhirnya resmi masuk ke gelanggang pertandingan pilkada. Proses dramatik yang dialami Helldy Agustian, calon Wali Kota Cilegon cukup menguras emosi, tenaga, fikiran dan finansial.

Dan akhirnya dia lolos juga masuk ke gelanggang pilkada. Mungkin bisa jadi itu sebenarnya peristiwa yang seharusnya terjadi di ujung ronda terakhir,, tetapi kemudian diawalkan. Jadi kalau melihat ini maka sebenarnya yang sudah mengalami perasaan diujung pertandingan adalah Helldy Agustian yang berpasangan dengan Sanuji Pentamarta.

Bisa jadi HelldySanuji sekarang akan menerima buah manis karena masa - masa sulitnya sudah awalkan, yaitu pada proses menjelang ditetapkan sebagai calon Walikota dan Wakil Walikota Cilegon.

Jadi, masa - masa menegangkan HelldySanuji sudah dilalui sehingga mereka berdua tidak begitu terbebani karena sudah pernah melewati masa - masa sulit selama momentum pilkada. Itulah mengapa pasangan HelldySanuji lebih stabil karena memang emosinya sudah dikuras diawal pertandingan. 

Penulis,
Karnoto, Founder Maharti Citra Media


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.