Header Ads

Ja'far Bin Abi Thalib, Sang Diplomat Diera Kenabian


BANTENPERSPEKTIF.COM, KHAZANAH - Pada masa awal posisi umat Islam benar - benar dijepit, dipojokan dan mendapat opini publik yang buruk dari kafir Quraisy. Tidak hanya bully dan cacian verbal, ancaman fisik hingga pembunuhan pun dilakukan para kafir Quraisy.

Kondisi ini membuat Nabi Muhammad berfikir keras bagaimana menyelamatkan para sahabat ketika itu. Dan Nabi Muhammad memutuskan untuk mencari suaka ke negeri yang dikenal adil saat itu, yaitu Habasyah.

Lalu berangkatlah sejumlah sahabat yang berjumlah kurang lebih 82 orang dengan pimpinan rombongan Ja'far bin Abi Thalib. Ada beberapa alasan mengapa Nabi Muhammad saw menunjuk Ja'far sebagai pimpinan rombongan.

Ia dikenl sebagai sosok yang pemberani, gagah, dermawan, dan orator ulung, demikian alasan Nabi Muhammad saw sebagaimana ditulis al-Dzahabi dalam Siyar A’lam al-Nubala.

Rombongan pencari suaka ini berangkat ke Habasyah  pada tahun ke-5 masa kenabian. Setibanya di Habasyah, Raja Habasyah yang bernama Najasyi (Negus) terpaksa harus mengkonfrortir para sahabat ini dengan salah satu kafir Quraisy yang juga datang ke Habasyah dengan maksud melobi Raja Habasyah agar para sahabat dikembalikan lagi ke Mekah atau menolak suaka mereka.

Sebagai raja yang dikenal adil, Najasyi tidak serta merta memenuhi permintaan kafir Quraisy agar sahabat Nabi Muhammad saw tersebut dipulangkan. Konfortir dilakukan di depan Raja Najasyi disaksikan para sahabat dan pengawal Raja Najasyi.

Disinilah terjadi perdebatan atau argumentasi antara Ja'far Bin Abi Thalib dengan perwakilan Kafir Quriasy. 

Dalam kitab Bihar al-Anwar  seperti dilansir situs bicara syariah, dikisahkan bahwa dengan suara yang tegas dan berwibawa Ja’far bin Abi Thalib berkata kepada Raja Najasyi, “Wahai Baginda Raja! Kami dahulu adalah orang-orang yang jahil, penyembah berhala, memutus silaturahimi, buruk kepada tetangga, yang kuat memangsa yang lemah, sehingga Allah Swt mengutus seorang Rasul di tengah-tengah kami, dari bangsa kami sendiri. 

Dia mengajak kami agar mengesakan Allah dan tidak mempersekutukannya dengan apa pun. Dia memerintahkan kami agar berkata jujur, menunaikan amanah, memelihara silaturahmi, berbuat baik kepada tetangga, dan menahan diri dari perbuatan tercela.”

“Karena ajaran-ajarannya itu, kami pun membenarkannya, memercayainya, dan mengharamkan apa yang diharamkan serta menghalalkan apa yang dihalalkannya. Karena itu pula kami dimusuhi kaum kami sendiri. Kami disiksa, dianiaya, dan difitnah. Hingga kami terpaksa pindah ke negeri Baginda. Kami memilih Baginda bukan yang lain, dan kami berharap agar tidak teraniaya di sisi Baginda,” lanjut Ja’far dengan retoris.

Dalam pertemuan ini, Ja’far pun membacakan surat Maryam yang berisi kedudukan Maryam dan Nabi Isa dalam ajaran Islam. Ketika mendengarkan ayat-ayat al-Quran, Najasyi menagis. Setelah mendengarkan penjelasan Ja’far, Raja Habasyah ini kemudian menjamin keamanan orang-orang muslim untuk tinggal di negerinya. Ketika datang orang-orang Quraisy menebus rombongan dengan membawa hadiah, agar mereka dipulangkan ke Mekah, Raja Najasyi menolak mentah-mentah.

Ibnu Asakir dalam Tarikh Ibnu Asakir mencatat bahwa orang-orang Muslim di Habasyah menetap selama kurang lebih 14 tahun hingga berakhir pada tahun ke-6 H. Tetapi menurut Ibnu Sa’ad, mereka menetap selama 15 tahun hingga tahun ke-7 H.

Latar Belakang Keluarga
Dalam catatan Ibnu Sa’ad dalam kitab Thabaqat al-Kubra Ja’far adalah anak dari pasangan Abu Thalib (nama asli: Abdu Manaf) bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdu Manaf dan Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf. 
Dari nasab yang disebutkan ini, kita bisa tahu bahwa kedua orangtua Ja’far masih terikat saudara sepupu satu kakek, sama-sama Bani Hasyim. Pasangan ini memiliki putra-putri sebanyak 10 orang, Ja’far adalah putra ketiga setelah dua kakaknya, Thalib dan ‘Aqil. 
Setelah Ja’far lahirnya Ali bin Abi Thalib, kedua sahabat kaka beradik ini terpaut usia yang cukup jauh, 10 tahun. Begitulah menurut Abu al-Faraj Isfahani dalam kitabnya Maqatil al-Thalibiyyin.

Ja’far bin Abi Thalib menikah dengan Asma’ binti ‘Umais bin Ma’bad. Menurut Ibnu ‘Unabah dalam ‘Umdat al-Thalib keduanya dikaruniai 8 orang anak, empat di antaranya adalah Abdullah, Aun, Muhammad, dan Ahmad. Tiga anak pertama, menurut Ibnu Sa’ad, lahir ketika mereka sedang berada di Habasyah (Abyssinia).

Itulah kisah sang diplomat muslim dizaman kenabian. Mereka mampu memuliakan umat Islam lainnya dengan keahlian yang dimilikinya. Sejatinya begitulah seorang Muslim, jadi apapun saat ini apalagi punya kemampuan khusus maka lakukanlah sesuatu sesuai keahlian itu untuk kemuliaan, harga diri dan wibawa umat Islam.

Diolah dari berbagai sumber



Diberdayakan oleh Blogger.