Header Ads

Cara PKS Memecah Gelombang


PKS ingin memecah gelombang kebuntuan dan kepenatan percakapan publik telah jauh dari culutre nenek moyang Indonesia sekaligus menghalau mereka yang bermain - main isu ini untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.
 

Aktivitas apapun yang dilakukan partai politik dan politisi maka hampir dipastikan ada pesan politik yang ingin disampaikan ke publik. Dan terkadang pesan itu multitafsir atau bersayap sehingga publik pun menterjemahkannya beragam termasuk safari politik yang dilakukan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Saya percaya pasti ada pesan yang ingin disampaikan oleh PKS terkait safari politik ini. Dalam konteks branding maka apa yang dilakukan oleh PKS adalah bagian dari aktivasi branding melalui tools event.

Dan aktivitas politik apa pun tidak akan pernah lepas dari momentum dan peristiwa kekinian, termasuk apa yang dilakukan oleh PKS. Safari politik PKS paling tidak bica kita baca dalam tiga konteks, yaitu konteks Pemilu 2024, branding partai didalamnya ada imaje building dan konteks isu.

Pada konteks Pemilu 2024, PKS memberikan signal kuat atau penjajagan bagaimana membangun koalisi sesama partai berbasis Islam. Untuk konteks ini sebenarnya bukan hal baru karena beberapa kali dicoba untuk menyelaraskan partai berbasis Islam, yaitu PKS, PKB dan PPP. Tetapi ditengah jalan selalu gagal karena ada dinamika politik yang mengharuskan partai berbasis Islam ini memilih jalanya sendiri - sendiri.

Pada bagian lain PKS juga mencoba meregangkan otot publik dengan cara melakukan safari politik ke PDI Perjuangan. Publik dan sebagian kader PDIP dan PKS sama - sama memiliki skeptis kalau kedua partai ini bisa berbincang - bincang dalam satu meja. 

Arus bawah loyalis kedua partai ini cukup deras perdebatannya sehingga banyak yang menganggap tidak mungkin bisa ngopi bareng. Tapi faktanya PKS dan PDI Perjuangan bisa "nongkrong" bareng. 

Meskipun kedua partai ini dianggap basa - basi tetapi memiliki dampak psikis bahwa mereka bisa kok ngobrol. Paling tidak lensa publik membaca ada upaya yang dilakukan PKS dan disambut PDI Perjuangan bisa meregangkan otot publik.

Sementara safari politik dalam konteks branding partai PKS ingin memberikan headline massage bahwa PKS itu moderat dan tidak sekestrim seperti yang dipersepsikan oleh publik terutama mereka kader PDI Perjuangan.


Selain sering bersinggungan dengan PDI Perjuangan, PKS juga sering ditabrakan dengan komunitas Nahdlatul Ulama (NU) dan safar politik ke PKB jelas membawa missi ingin meluruskan itu. Toh pada faktanya memang sebagian kader dan elit PKS adalah orang NU cultural bahkan beberapa ada yang menjadi organ NU.

Ketika PKS bisa ngopi bareng dengan PDI Perjuangan dan PKS maka stigma bahwa PKS aliran keras bisa diredam meskipun nanti pada saat pemilu isu klasik kalau PKS anti tahlilan akan tetap ada. Tetapi PKS sudah punya tameng yaitu dokumentasi safari politik ke PKS dan tokoh NU.

Atau ketika PKS diserang isu anti nasionalisme, PKS juga sudah punya tameng dokumentasi dengan PDI Perjuangan. Safari politik ini juga merupakan bagian dari aktivasi branding PKS dengan tagline barunya yaitu Melayani Rakyat, artinya PKS ingin mengatakan bahwa memang kami partai berasakan Islam tetapi bukan berarti PKS anti nasionalisme, anti bhineka.

Dan konteks ketiga yang bisa kita baca dari safari politik PKS adalah konteks isu. Benturan isu Islam dan Nasionalisme sekarang ini seperti ada yang mendesain maka  PKS merasa perlu meredam isu ini.

Kalau saya membaca pesan ini adalah PKS ingin membangun kesadaran kolektif bahwa ada sesuatu yang bermain dibalik isu sekarang ini. Membangun kesadaran kolektif ini menjadi penting dalam konteks keselamatan negara dan demokrasi Indonesia.

Sebetulnya safari politik hal biasa dilakukan sebagai salah satu upaya untuk share dan membangun jembatan pengertian antar elit partai sehingg akar rumput pun bisa mengikuti jejak mereka untuk berdamai dalam konteks komunikasi.

PKS ingin memecah gelombang kebuntuan dan kepenatan percakapan publik telah jauh dari culutre nenek moyang Indonesia sekaligus menghalau mereka yang bermain - main isu ini untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. 

Sebab gelombang ini semakin hari semakin besar dan sejumlah elit sebenarnya menyadari semakin membahayakan. PKS pun mencoba tampil menjadi pelopor untuk memecah gelombang itu.

Pertanyaannya kemudian apakah safar politik ini berhasil? Harus jujur memang tidak seratus persen berhasil tetapi juga tidak sepenuhnya gagal. Paling tidak ini ditunjukan dari penyambutan partai yang dikunjungi PKS, menurut saya sangat istimewa dan mereka seperti menunggu momentum tersebut.

Dan harus diakui bahwa apa yang dilakukan PKS merupakan langkah strategis. Padahal kalau melihat rekam jejak politik yang suka melakukan ini adalah Partai Golkar. Mereka dulu paling rajin melakukan safari politik dan selalu tampil lebih awal. 

Karena secara positoning Partai Golkar memang lebih fleksibel mengingat Golkar tidak punya irisan konflik isu keIslaman dan nasionalisme. Tapi momentum yang dimiliki Golkar dicuri oleh PKS dengan melakukan safari politik lebih dini. Padahal kalau peluang ini diambil Partai Golkar maka akan menguntungkan Golkar untuk kepentingan Pemilu 2024. ***

Penulis : Karnoto
Founder BantenPerspektif

Diberdayakan oleh Blogger.