Header Ads

Mudik, Kritik dan Politik


Sebenarnya rakyat mengerti maksud pemerintah mengeluarkan kebijakan ini, tapi menjadi lain ketika ada kabar di media bahwa ada migrasi WNA ke Indonesia dengan dalih sudah memenuhi aturan pemerintah.

Sejatinya umat Muslim bisa berbahagia saat menjelang Lebaran karena bisa mudik. Meski macet dan mengeluarkan ongkos transportasi yang lebih mahal tapi semua itu sirna manakala berbaur dalam satu suasana yaitu mudik.

Tapi tahun ini suasana mudik berubah menjadi menegangkan. Tegang karena mudik dibatasj,, dijaga aparat lengkap dengan senjata belum lagi mereka yang terlanjur jalan tapi harus dipaksa balik arah. Sangat lelah dan menegangkan !

Kalau tahun lalu mungkin seluruh rakyat sepakat dan menerima dengan berbesar hati karena pelarangan itu berlaku untuk semua, tanpa terkecuali.

Tapi tahun ini sebagian orang dibolehkan mudik dengan persyaratan khusus, tanpa persyaratan jangan harap bisa pulang kampung.

Sebenarnya rakyat mengerti maksud pemerintah mengeluarkan kebijakan ini, tapi menjadi lain ketika ada kabar di media bahwa ada migrasi WNA ke Indonesia dengan dalih sudah memenuhi aturan pemerintah.

Pada bagian lain objek wisata justru dibolehkan buka. Pertanyaannya adalah substansi pelarangan mudik adalah mencegah kerumunan, its oke.

Yang menjadi pertanyaan rakyat adalah mengapa mall, objek wisata dan WNA dibolehkan, bukankah semua itu berpotensi menimbulkan kerumunan?

Buat pejabat di istana mungkin tidak bisa merasakan bahwa mudik bukanlah sekadar orang merantau pulang kampung, bukan sekedar menengok sauadara dan bukan sekadar wisata perjalanan.

Mudik adalah salah satu sarana kontemplasi mereka sejauhmana mereka mengejar cita - cita. Pejabat istana mungkin bisa saja mengatakan pulang kampung bisa kapan aja, itu mereka yang memiliki finansial setiap hari, setiap bulan dan setiap waktu. Bahkan bisa beli baju baru setiap saat, kapanpun mereka mau.

Tapi buat sebagian masyarakat tidaklah demikian. Mereka rela menabung selama 11 bulan untuk bisa mudik dengan sempurna, membawa uang, beli baju baru dan membawa oleh - oleh untuk sekadar berbagi dengan sanak saudara.

Anda yang dulu mendukung mati matian Jokowi dari kalangan grasroot juga pasti ingin mudik bukan Bisakah Anda memohon ke Jokowi seperti dulu dia memohon dukungan Anda? Akuilah sejarah jujur tanpa malu bahwa ada masalah dengan manajemen kebijakan pemerintah direzim Jokowi.

Tidak perlu membohongi diri sendiri kalau sekarang baik - baik saja, untuk apa menyembunyikan suara hati itu karena presiden toh tiap lima tahun akan dipilih kembali.

Jangan juga berprasangka kalau yang mengkritik anti pemerintah, orang yang sakit hati, pendukung HRS, pendukung partai oposisi atau pendukung PrabowoSandi, karena toh faktanya kedua orang ini sudah menjadi bagian dari pemerintah. Dan itupun telah diterima oleh mereka yang mendukung PrabowoSandi.

Tapi sebagian masih berfikir rasional, memberikan kritik kepada pemerintah biarpun dua orang jagoan mereka kini bagian dari pemerintah. Ini soal rasa, perasaan tentang kebijakan yang seringkali membingungkan. Ada problem serius tentang pengelolaan negara, tentang manajemen perbedaan, tentang demokrasi.

Kalau ada yang mengasumsikan bahwa mereka yang kritik pemerintah semua adalah pendukung HRS, partai oposisi, itu salah besar. Faktanya sebagian dari mereka bukanlah pendukung HRS,, bukanlah orang partisan tetapi orang independen yang membaca 

keadaan dengan kacamata batin bahwa memang ada masalah serius yang dihadapi negara sekarang. ****

Penulis,
Karnoto, Founder BantenPerspektif

Diberdayakan oleh Blogger.