Header Ads

Revitalisasi Banten Lama dan Positioning Wahidin Halim


Dalam studi komunikasi pemasaran ada teori yang dikenal dengan istilah product life cycle (PLC) atau siklus sebuah produk . Dijelaskan dalam teori tersebut bahwa ada empat siklus yang akan dialami oleh suatu produk yaitu  introduction, growth, mature dan terakhir decline

Semua produk akan mengalami siklus itu, tanpa terkecuali termasuk produk personality seseorang. Siklus pertama adalah introduction (pengenalan), pada siklus ini dialami oleh produk - produk baru. Oleh karena baru sampai pada siklus pengenalan maka konten komunikasi marketingnya akan lebih kental dengan nuansa yang menjelaskan tentang produk tersebut.

Kawasan Banten Lama sebelum direvitalisasi terlihat semrawut karena terhalang oleh tenda dan warung - warung pedagang.

Salah satu komunikasi pemasaran yang dilakukan adalah melalui event, yaitu launching. Setelah melewati siklus pengenalan ini maka produk tersebut akan maju ke siklus growth (tumbuh). Pada siklus ini suatu produk akan berbeda cara komunikasi marketingnya dengan siklus pengenalan.

Konten komunikasi produk yang sudah berada pada siklus growth akan lebih banyak konten persuasif daripada konten sosialisasi atau pengenalan. Selanjutnya adalah sikus mature (kemapanan).

Pada siklus ini suatu produk sudah memiliki customer loyalis atau dalam konteks politik mereka sudah memilih pengikut loyalis. Nah, pada siklus inilah suatu produk akan diuji sejauhmana kemampuan dan daya tahannya mempertahankan positioning. 

Jika tidak mampu maka produk tersebut akan mencapai siklus decline atau kejenuhan. Pada siklus ini orang mulai bosan dan bahkan mulai meninggalkan produk tersebut. Itulah perjalanan suatu produk dalam teori proudct life cycle

Memang dalam teori itu yang dibahas adalah produk komersial, tetapi ternyata dalam pengamatan saya siklus itu pun berlaku untuk produk politik, mulai dari partai politik dan para politisinya sendiri.

Semua politisi pasti akan mengalami empat siklus itu karena yang membedakan hanyalah jedah dari posisi mature (kemapanan) ke decline (kejenuhan). Saya pastikan semua politisi mengalami siklus itu.

Salah satu yang harus dilakukan oleh seorang politisi dalam menjaga positioningnya pada siklus mature agar tidak cepat ke siklus decline adalah melakukan aktivasi atau program strategis yang tidak dilakukan orang lain supaya publik bisa melihat perbedaanya dan inilah salah satu cara kerja branding, yaitu untuk membedakan antara produk yang satu dengan produk yang lain.

Dan dalam konteks Wahidin Halim, dia melakukannya yaitu salah satunya adalah program Revitalisasi Kawasan Banten Lama di Kota Serang. Sejak Provinsi Banten berdiri sebenarnya keinginan publik agar kawasan bersejarah ini dirapikan sudah ada.

Namun ternyata dari gubernur ke gubernur tidak ada yang mampu melakukan hal itu, mulai dari Djoko Munandar, Ratu Atut Chosiyah hingga Rano Karno sekalipun. Kawasan ini baru bisa direvitalisasi dimasa Wahidin Halim menjadi gubernur.

Dalam konteks komunikasi apa yang dilakuan WH menjadi higlight dimasa - masa awal ia menjadi Gubernur Banten. Karena WH berhasil melakukan upaya mempertahankan positioning maturenya maka tingkat kepercayaan publik pun bisa dipertahankan.

Seperti diketahui, Kawasan Banten Lama sekarang menjadi lebih indah, tertata rapi dan instagramable. Kawasan Banten Lama kini menjadi tren selfie para generasi milenial yang sebelumnya tidak se-ekspresif seperti sekarang. 

Bahkan kalau kita ulik lagi lebih dalam tentang aktivasi yang dilakukan WH pada konteks revitalisasi Kawasan Banten Lama maka disana akan kita temukan tentang nyentriknya pemahaman WH soal city branding kawasan tersebut.

Kawasan Banten Lama setelah dilakukan revitalisasi.

Didalam aktivasi  melalui revitalisasi Kawasan Banten Lama yang dilakukan WH ini ada upaya Re-brandsmark Banten Lama, dimana dimasa lalu daerah ini memiliki sejarah kuat dan berkarakter.

Di daerah ini juga ada berbagai macam simbol yang menjadi karakter Banten. Ada simbol kekuasaan dan kekuatan yang direpresentasikan oleh benteng, ada simbol religiusitas yang direpresentasikan Masjid Agung Banten Lama, ada simbol toleransi yang direpresentasikan adanya bangunan Vihara tua, lokasinya tidak jauh dari masjid.

Lalu ada simbol ekonomi ummat yang direpresentasikan keberadaan para pedagang di Kawasan Banten Lama. Akan sulit rasanya revitalisasi Kawasan Banten Lama terwujud kalau WH tidak mengerti dan menjiwai sejarah Kawasan Banten Lama.

WH pun beberapa kali mengutarakan soal sejarah di kawasan ini. Dalam beberapa kali kesempatan, WH mengucapkan bahwa Kawasan Banten Lama adalah salah satu ikon kuat yang dimiliki Banten dan tidak boleh terlihat dalam keadaan yang kumuh. WH sesungguhnya sedang melakukan aktivasi branding melalui publisitas.

Dalam konteks teori marketing maka WH bukan saja seorang gubernur tetapi juga seorang marketer, yaitu orang yang mengerti tentang bagaimana membangun dan mempertahankan sebuah brand.

Dan cara WH mempertahankan positioningnya pada siklus mature dengan program revitalisasi Kawasan Banten lama adalah strategi yang tepat dan mengena. Tidak hanya itu, strategi ini juga memberikan efek wow dimata masyarakat luas karena kawasan ini telah berubah secara siginifikan.

Revitalisai Kawasan Banten Lama memiiki efek luar biasa bagi positioning WH karena dengan adanya perubahan kawasan ini maka pengunjung yang datang akan terlibat menjadi marketing tentang Banten yang kini menjadi lebih baik.

Para pengunjung akan menjadi para marketer Banten dan terlihat memasarkan Kawasan Banten Lama dengan word of mouth (dari mulut ke mulut). Mereka akan bercerita ke orang lain tentang keindahan Kawasan Banten Lama yang berdampak pada peningkatan wisatawan ke tempat ini. Ini tentu saja akan memberikan efect multiplayer terutama terhadap para pedagang di kawasan tersebut.

Dari sini WH cukup jeli bagaiaman mempertahankan positioningnya agar tidak cepat pada siklus decline. Ceritanya mungkin akan lain ketika WH tidak melakukan revitalisasi Kawasan Banten Lama. Mungkin WH akan dianggap sama dengan gubernur sebelumnya dan ini jelas akan mempercepat posisi WH ke sikus decline. Beruntung WH berfikir strategis sehingga dia bisa mempertahankan posisi matrurenya sampai sekarang.

Penulis,
Karnoto
Founder MahartiBrand, CEO Maharti Citra Media (BantenPerspektif.Com)
Mantan Jurnalis Jawa Pos Group (Radar Banten)
Mantan Jurnalis Majalah Warta Ekonomi Jakarta
Pernah Studi Ilmu Marketing Communication Advertising 
di Univ.Mercu Buana Jakarta


Diberdayakan oleh Blogger.