Header Ads

Personal Brand Para Ustadz


Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Muhammad Faizar, Aa Gym, Gus Baha, Gus Miftah, Ustadz Rahmat Baequni, Ustadz Budi Azhari, Ustadz Oemar Muti, mereka adalah deretan ustadz yang tenar sekarang ini. 


Unik dan asyiknya mereka memiliki personal brand sesuai dengan keunikannya masing - masing sekaligus kelebihannya masing - masing. Ketika kita membutuhkan ilmu soal Ruqyah Syariyah maka Ustadz Muhammad Faizar adalah pilihannya.


Ketika bicara soal hadist dan makna konten ayat dalam Al Qur;an secara detail berikut halaman dan maknanya maka Ustadz Adi Hidayat adalah pilihannya. Ketika bicara soal sejarah Islam maka Ustadz Budi Azhari adalah orang yang tepat.


Saat bicara soal dakwah di komunitas klub klub malam maka Gus Miftah adalah pilihannya. Jadi sebenarnya kalau dilihat dalam konsep personal branding apa yang melekat pada para ustadz sudah on the track, artinya benar memang bahwa pasar dalam artian luas sekarang ini telah mengalami segmentasi secara alamiah.


Dalam tulisan sebelumnya saya sudah jelaskan soal pasar segementatif ini, bahkan saya mencontohkan beberapa brand salah satunya adalah produk media. Ada media berita, hiburan, investigasi, politik dan media bisnis. 


Begitu pun yang terjadi pada produk komersial lainnya, ada fesyen remaja, fesyen anak sekolah, fesyen wanita karir dan lain sebagainya. Dan ternyata ini pun terjadi pada personal brand para ustadz.


Dalam konteks ini cara para ustadz membangun personal brand merupakan langkah yang tepat karena memang Muslim sendiri kebutuhannya tersegmentasi. 


Ada yang membutuhkan soal pengetahuan sejarah Islam, ada pula yang membutuhkan konten dakwah yang segara dan ada pula yang membutuhkan konten dakwah serius soal hadist dan makna al Qur'an.


Dan sebenarnya fenomena personal brand para ustadz yang terjadi sekarang sudah pernah terjadi pada zaman dahulu. Dulu di zaman kenabian juga ada sosok Bilal yang kuat dengan personal brandingnya sebagai muadzin, ada Abdurrahman bin Auf yang kuat dengan personal brandnya sebagai seorang pengusaha.


Jadi kalau dibaca dalam perspektif personal branding  fenomena kemunculan para ustadz dengan beragam kekhasan masing - masing merupakan kebutuhan umat Muslim saat ini.


Mereka tersegmentasi secara alamiah sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Hal ini sebagaimana terjadi pada produk komersial.


Dan kalau saya melihat sejauh ini para ustadz konsisten merawat personal brandnya. Apa yang mereka lakukan sebenarnya sesuai dengan konsep personal branding yang dipakai oleh brand brand produk komersial.


Tinggal nanti yang membedakan adalah pada siklusnya atau dalam teori ilmu marketing communication disebut dengan product life cycle, siklus sebuah produk.


Karena semua produk pasti akan mengalami siklus ini termasuk personal brand seseorang. Tentang apa itu product life cycle silahkam baca pada tulisan saya sebelumnya.


Kalau mengacu pada siklus sebuay produk maka para ustadz saat ini sedang berada pada posisi mature atau mapan. Inilah posisi jaya jayanya sebuah brand sebelum akhirnya sampai pada siklus decline atau jenuh.


Hal ini terjadi pada semua produk termasuk personal brand para ustadz. Dulu sebelum mereka kita mengenal Ustadz Maulana dengan taglinenya Jamaah, Ustadz Solmed termasuk dimasa mereka ada nama Aagym dengan personal brandnya jagalah hati.


Mereka juga pernah mengalami posisi seperti yang dialami para ustadz saat ini. Mengapa bisa terjadi demikian? Seperti yang saya sebutkan di atas bahwa semua produk akan mengalami siklus sebuah produk.


Yang membedakan ada jedah dari posisi mature ke decline, ada yang 5 tahun, 10 tahun dan mungkin juga lebih. Dalam pandangan saya ini ada dua faktor penyebabnya, yaitu internal dan eksternal.


Internal itu lebih kepada bagaimana produk menjaga dan merawat loyalisnya dengan konten - konten yang selama ini melekat tapi dimodofikasi supaya tidak membosankan.


Sementara faktor eksternalnya adalah ada perubahan psikografis pada umat Islam secara cepat karena beberapa hal salah satunya ada gaya hidup, sosial dan politik.


Penulis,
Karnoto
Founder BantenPerspektif

Website Personal :

www.karnoto.my.id

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.