Header Ads

Personal Brand Sahabat Nabi


Kalau saya sebutkan nama - nama sahabat Nabi Muhammad Saw berikut ini apa yang ada dalam fikiran Anda dalam waktu cepat. 

Ada Umar Bin Khattab, Abu Bakar Shidiq, Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Bilal dan Zaid bin Tsabit. Yang pernah baca sejarah dan mendengarkan kisah mereka pasti bisa langsung memetakan mereka, menyebutkan brand personality mereka secara khusus.

Kita bisa langsung menggambarkan  mereka sesuai dengan karakter paling menonjol pada diri mereka. Misalkan Umar bin Khattab, kuat pada karkater ketegasannya, Abu Bakar Shiddiq kuat pada kebijaksanaanya, Abdurrahman bin Auf kuat dengan pengusahanya, Zaid bin Tsabit kuat dengan dunia tulis menulisnya.

Dan itulah sebenarnya inti dari personal branding, yaitu mengoptimalkan keunikan yang paling menonjol dimiliki oleh seseorang. Personal branding bukanlah rekayasa kepribadian seseorang yang akan menjadikan kita seperti orang lain, bukan sekali lagi bukan itu.

Apa yang dilakukan para sahabat nabi tersebut hakikatnya mereka melakukan apa yang sekarang kita kenal dengan personal branding. Ketika Umar bin Khattab dikenal orang yang tegas, bukan berarti dia tidak bijak.

Akan tetapi dari karakter yang dimiliki oleh Umar ketegasan itulah yang paling menonjol dan itulah yang kemudian dioptimalkan sehingga Umar memiliki personal brand yang kuat sebagai orang yang tegas.

Begitu pun yang lain, ketika Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai seorang pengusaha sukses bukan berarti  tidak tegas atau tidak bijak, tetapi dari karakter yang dimiliki pengusaha adalah karakter paling kuat dimiliki Abdurrahman bin Auf. 

Dalam teorinya  ada dua fungsi mengapa sebuah brand dalam konteks ini adalah personal melakukan branding, fungsi pertama branding adalah sebagai pembeda. 

Pembeda antara orang yang satu dengan yang lain, pembeda antara politisi yang satu dengan politisi lain, pembeda antara pengusaha satu dengan pengusaha lain dan seterusnya.

Lalu fungsi kedua adalah untuk memperkuat brand itu sendiri. Dan dua fungsi ini dilakukan oleh para sahabat Nabi Muhammad saw. Meskipun saat itu mereka tidak mengenal teori branding, namun hakikatnya mereka melakukan itu.

Dan peran Nabi Muhammad saw sangat besar dalam upaya personal branding para sahabatnya tersebut. Rasulullah Saw tidak pernah mengucapkan atau meminta Umar bin Khattab menjadi sosok seperti Abu Bakar atau sebaliknya meminta Abu Bakar menjadi seperti Umar.

Rasulullah  Saw membiarkan karakter menonjol pada diri Umar untuk kemudian memberikan ruang yang cukup agar potensi tersebut lebih optimal.

Jadi, desainer personal branding sesungguhnya telah diterapkan Rasulullah Saw beberapa abad silam, sebelum Philip Kotler bicara soal komunikasi pemasaran, sebelum Hermawan Kertajaya bicara soal marketing. 

Tools - tools aktivasi branding pun mereka lakukan diantaranya tercermin dari identitas personality mereka baik berupa performance mereka maupun aktivasi branding melalui sejumlah event. 

Coba kita baca dalam literatur sejarah bagaimana identitas Umar bin Khattab yang tinggi, jalannya tegap suaranya lantang. Dan tahukah Anda, identitas visual yang melekat itu dan tidak dihilangkan dari Umar adalah bagian dari personal branding untuk memperkuat personal brandnya sebagai sosok yang tegas.

Bahkan sosok para nabi pun sarat dengan teori personal branding, misalkan Nabi Sulaiman, dia kuat dengan personal brand sebagai nabi yang punya kekuasan, Nabi Yusuf kuat dengan paras wajahnya yang ganteng, Nabi Musa kuat dengan karakter perlawanan terhadap penguasa dan sebagainya.

Termasuk Nabi Muhammad Saw sendiri yang kuat dengan personal brandnya sebagai orang berakhlaq. Akhlaq Rasulullah Saw adalah paling menonjol diantara yang lain bahkan sampai tercipta tagline yang disematkan kepada Nabi Muhammad Saw yaitu "Muhammad Al Amin". 

Ketika saya menyebutkan Rasulullah Saw kuat dengan personal brandnya dengan akhlaq bukan berarti dia tidak memiliki kemampuan yang lain.

Termasuk ketika saya menyebutkan Nabi Sulaiman kuat dengan kekuasaanya bukan berarti tidak memiliki akhlaq, tetapi dari semua yang dimiliki yang paling kaut dan menonjola masing - masing berbeda. Dan inilah yang disebut personal branding.

Makanya kemudian di Al Qur;an banyak bicara hal - hal terkait spesialis, Al Qur'an bicara soal ahli keuangan atau akuntansi, ahli bisnis, ahli pertanian dan lain sebagainya. 

Ini membuktikan bahwa Al Qur'an bicara soal personal branding. Jadi dalam konteks ini kita sebenarnya sudah diberikan gambaran lengkap bagaimana melakukan personal branding melalui Al Qur'an dan Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya.

Dan mereka konsisten dengan personal brand yang dimiliki sampai akhir hayatnya. Konsisten ini menjadi bagian penting dalam melakukan personal branding sehingga publik bisa melihat jelas siapa kita. Dan itulah konsep personal branding yang sekarang ini dipakai dalam kehidupan modern. 

Apa yang Nabi Muhammad Saw dan para sahabat lakukan hakikatnya memberikan isyarat kepada kita sebagai ummatnya untuk melakukan personal branding. Ada highlight mengapa personal branding mereka sukses dan ini sesuai dengan teori branding yang ada sekarang ini dizaman modern.

Beberapa diatantaranya, yaitu temukanlah keunikan atau karakter paling menonjol pada diri kita karena itulah nanti yang akan dibranding. Inilah yang orang menyebut konsep diri. Selama konsep diri kita tidak ketemu maka selama itu pula kita tidak bisa melakukan personal branding. 

Lalu selanjutnya adalah konisten dalam melakukan branding, merawat personal brand dengan aktivasi branding yang terintegrasi karena branding adalah bicara proses dan bicara proses itu artinya bicara waktu.

Penulis,
Karnoto
Founder BantenPerspektif
Website Personal :

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.